Cyber Sabili-Solo. Perjuangan tidak mudah dilakukan Mbah Wono di Gilingan Solo yang berhasil menyelamatkan kaum marginal dari dunia hitam ke dunia yang penuh cahaya. Perjuangan yang sangat mulia menjadi contoh untuk kita semua untuk peduli terhadap sesama..
Ahad pagi di Taman Tirtonadi Gilingan Solo, menjadi saksi bisu kisah perjalanan karier sosial Bapak satu anak ini. Mbah Wono panggilan akrabnya di sana telah membius dan melakukan perubahan bagi kaum marginal yang bisa hidup di dunia hitam menjadi orang yang lebih baik. Tak heran apa yang dirintisnya selama ini membuahkan hasil yang positif seperti dakwah salah satunya.
Dakwah adalah salah satunya yang hingga kini dirintisnya untuk mengisi hati mereka. Mereka mampu mengumpulkan kaum marginal untuk diajak bercengkrama dan mendengarkan tausiyah dari ustadz dan ustadzah yang telah dirintisnya selama tiga tahun ini. “Saya ingin agar mereka sadar dalam kehidupan ini seseorang tidak hanya bisa dilihat dari sisi negatifnya saja melainkan dari segi postifnya. Kami hanya ingin memberikan masukan dan pencerahan bagi mereka,” jelas Mbah Wono kepada Rohmah Suciati, wartawan Sabili di Taman Terminal Tirtonadi Ahad (21/11).
Di tempat alam terbuka itulah Mbah Wono beserta istri tercintanya yang selalu mengadakan acara rutin seperti buka puasa bersama dan makan bersama. Tausyiah dan acara yang unik telah diagendakan untuk lembaga yang ia dirikan di Lembaga asy Syifa, lembaga yang bergerak dibidang sosial ini mampu menyerap mereka kaum marginal. Mereka yang dulunya mantan pencopet, penjudi, pemabuk dan PSK mampu ia rangkul dan sadar bahwa mereka juga perlu diberikan sentuhan dan kegiatan yang positif.
“Memang tidak mudah awalnya namun Alhamdulillah dengan berbagai kegiatan yang positif seperti membuat anyaman ketupat, buka puasa dan latihan cara memandikan jenazah sudah kita lakoni, ini yang membuat mereka menjadi antusias,” jelasnya.
Di rumah Beliau , tepat di daerah Gilingan ini, sekaligus dijadikan tempat untuk membuka Usaha Pendidikan Anak usia Dini (PAUD) Asy Syifa yang semula muridnya hanya lima orang sekarang berkembang menjadi 50 orang tanpa dipungut biaya.
Awalnya memang banyak cobaan yang dilalui, tetapi Mbah Wono panggilan akrabnya tidak gentar karena Beliau sadar dengan melakukan kegiatan positif, maka orang-orang disekitarnya memang banyak yang keberatan. Ada saja cobaan Beliau dari mulai hinaan makian dan cercaan namun tidak putus asa pria kelahiran Klaten 23 April 1959 ini tetap bertahan hingga sekarang. “Dulu saya sering difitnah dikatakan sok sucilah dan lain-lain yang membuat miris namun karena saya yakin Allah akan menolong hambanya, maka kejadian tersebut akhirnya tidak terjadi masalah,” jelasnya.
Diakuinya pendidikan bagi anak usia dini merupakan hal baru baginya. Dengan demikian, Beliau selalu terus belajar, mengasah kemampuannya dan memohon Ridho Allah SWT agar keinginan Beliau yang terpendam itu akhirnya tercapai setelah mendidrikan PAUD secara nyata dan ingin menolong kaum marginal. Akhirnya banyak donator dari berbagai daerah yang melirik usaha ini bahkan donatur dari luar kota seperti Jakarta yang ikut menyumbangkannya. Perjuangan pasti akan ada hasilnya tinggal cara kita memperjuangkan usahanya. ”Ini semua ada berasal dari usaha panggilan hati dan berbuat lebih banyak bagi lingkuingan sekitar meski bantuan itu tidak berbentuk materi,” jelasnya.
Di daerah Gilingan yang berdekatan dengan terminal Tirtonadi Solo ini memang banyak tempat kumuh dan daerah negatif, tetapi berkat ketekunan pria ini mampu memberikan pencerahan dan sumbangan untuk lingkungan sekitar khususnya pada anak anak usia dini yang dulunya tidak mampu sekolah mereka kini bisa bersekolah dengan gratis. “Bahkan banyak sukarelawan yang mau mengajarkan kepada mereka sehinga saya ikut senang,” jelasnya.
Cobaan Berat
Bagi Mbak Wono pekerjaan yang dilakoninya ini adalah panggilan hati kaum marginal yang sekarang beliau kumpulkan telah berhasil berkat usaha dan permohonan beliau kepada Allah SWT yang selama ini pandangan lingkungan sekitar terhadap kaum marginal seperti tukang becak, copet PSK kini sedikit berubah karena Mbak Suwono mampu membentuk mindset mereka menjadi orang yang lebih baik. Mereka bukanlah sampah namun juga bagian masyarakat yang berhak mendapatkan layanan publik termasuk pendidikan. “Meskipun orang tua mereka tidak sekolah paling tidak yang sekarang kita pikirkan adalah anak anak mereka mereka juga membutuhkan pendidikan agar mereka kelak mendapatkan pekerjaan dan akhlaq yang baik,” jelasnya.
Awal merintis berbagai kegiatan itu dilakukan oleh Mbah Wono yang dibantu oleh istrinya, mereka tetap semangat untuk mendirikan usaha pendidikan yang tidak mudah. Karena memiliki tekat yang kuat untuk mendapatkan bantuan yang dilakukan secara sederhana yaitu melakukan pendekatan dari orang orang relasi melalui SMS yang akhirnya banyak membantu Beliau. “Bantuan itu datang karena hubungan baik dan rasa kepedulian para donator yang selama ini membantu dengan ikhlas,” jelasnya.
Tak sedikit kegiatan yang dilakukan oleh kelompok di lingkungan Mbah Wono sebelumnya hanya beberapa gelintir yang mengikuti kegiatan tausiyah pada Ahad pagi. Namun, sekarang sudah mencapai 150 orang setiap satu minggu sekali. Mereka terutama ibu ibu mendapatkan ilmu yang diberikan oleh ustadz dan ustadzah yang berpengalaman di bidangnya. Mereka antusias bahkan ada tambahan kegiatan usai tausiyah diadakan senam masal yang membuat mereka lebih bersemangat. “Mulai Ahad ini diadakan senam bersama di taman ini agar mereka sehat dan tetap menjaga kebugaran tubuh. Dengan kesehatan yang prima maka menjalani hidup akan semangat,” jelasnya.
Berbagai kegiatan rutin yang digelar terutama hari hari besar seperti Isra’ Mi’raj dilakukan dengan antusias oleh kelompok ibu-ibu pengajian. Mereka menggelar kegiatan bazar. Setelah kegiatan bazar, mereka diajak untuk merenung dengan selaku melakukan dakwah salah satunya, yang semula hanya digelar satu bulan sekali kini rutin dilakukan setiap hari minggu, Kegiatan itu menyadarkan mereka sedikit demi sedikit itu membuat Mbah Wono senang, hidup dibawah naungan Islam adalah hak setiap orang tak terkecuali mereka yang sebelumnya terjerumus ke lembah hitam dan ke dalam jurang kemaksiatan. Allah memiliki sifat maha pengampun hanya ini yang bisa saya lakukan dengan panggilan hati. “Saya dekati satu persatu ketika mereka membutuhkan bantuan, saya bantu semamapunya dan meninggalkan pekerjaan buruknya. Alhamdulillah mereka sadar dan sekarang hidup dengan tenang dan kembali ke jalan yang benar,” jelasnya.
Mbah Wono mengakui awalnya berdakwah kepada mereka yang terjerumus di dunia hitam tidaklah mudah. Dibutuhkan kesabaran dan keistiqmahan yang tinggi untuk terus berdakwah meski berbagai tantangan yang menghadang. Namun, Alhamdulillah dakwah yang sebelumnya memang saya lakukan sendiri bersama istri namun sekarang banyak yang membantu dengan ikhlas untuk ikut berdakwah. “Setiap minggu kami telah mengundang ustadz dan ustadzah untuk berdakwah dengan tema bebas, dan Alhamdulillah berjalan dengan lancar,” jelasnya.
Tak hanya pengajian rutin yang digelar namun Majelis asy-Syifa juga mengadakan kegiatan lain yakni bagi anak-anak diadakan kegiatan taman pendidikan al-Qur’an (TPA) dan taman baca khusus bagi anak anak jalanan juga diadakan pembinaan. “Pada momentum Isra’ Mi’raj kami memberikan bingkisan bagi anak anak yang berprestasi dan pembagian al-Qur’an secara gratis usai acara pengajian yang diadakan di Taman Tirtonadi,” jelasnya.
Kegiatan yang rutin diselenggarakan oleh lembaga asy-Syifa ini membuat ibu-ibu senang karena dengan banyaknya kegiatan, maka akan hidup seperti rangkaian kegiatan pembuatan toples, cara membuat ketupat dan kegiatan mengurus jenazah menjadi pengalaman tersendiri bagi mereka. “Saya senang bisa ikut komunitas ini karena kegiatan postif ini membuat saya menjadi ibu yang bersemangat dan pengalaman menyulap toples lebaran ini membuat saya menjadi bisa dan ilmu itu bisa dipraktekkan di rumah,” jelas Ny Siti (45 th).
Keinginan kelak bagi Mbah Wono adalah membuat mereka kuat menghadapi hidup dengan pesan-pesan Islam melalui dakwah yang rutin dan kegiatan yang positif. Rumah beliau yang cukup sederhana di RT 1 RW V Cinderejo Lor, Gilingan Solo ini menjadi sentral bagi mereka yang hidup di garis kemiskinan menjadi manusia yang berguna di lingkungan kegiatan dakwah dan kegiatan positif lainnya untuk meningkatkan pengalaman- pengalaman baru melalui dakwah dan jihadnya kini.
“Selama saya masih hidup dan masih sehat memperjuangkan dakwah dan jihad ini akan saya teruskan untuk memiliki gedung sendiri yang lebih luas,.Semoga Allah SWT merestui dan meridhai dengan usaha yang maksimal ini. Keinginan itu dapat terwujud untuk menggerakkan mereka menjadi manusia yang lebih hidup dan berguna,” Jelasnya.
Kaum marjinal bukanlah sampah. Kewajiban setiap Muslaim mendakwahkan Islam kepada mereka. Mbah Wono telah membuktikan, ada kepuasan batin mendakwahkan Islam kepada mereka. (Suciati)
Sumber: Majalah Sabili No 5/XIX, 8 Desember 2011. Informasi dan donasi hubungi SABILI SMS Center: 021-33542402.
- 01/05/2012 14:38 - Laporan INFAQ Kafilah Dakwah
- 28/03/2012 14:21 - Dai Nias Menanti Uluran Tangan
- 08/03/2012 17:08 - Laporan Infaq dari Pembaca
- 15/02/2012 09:02 - Dana Operasi Anak Malah Kecopetan
- 15/11/2011 14:39 - Laporan Kurban di Pedalam Nias
- 27/10/2011 15:46 - Berbagi Kurban dengan Mualaf Nias
- 20/10/2011 14:44 - Dakwah Di Pedalaman Nias
- 20/10/2011 14:27 - Rumah Sakit Indonesia di Gaza: Pemerintah Bantu IDB, Rakyat Bangun Sendiri
- 19/09/2011 19:17 - Ending Program Anak-Anak Mualaf Nias



