Cyber Sabili-Jakarta. Tak terasa sudah memasuki tahun baru Islam. Cita-cita kebangkitan Islam dikaitkan dengan momentum tahun baru hijriyah masihkan relevan? Masalah inilah yang menjadi perbincangan Daniel Handoko dari Sabili dengan Pengamat Dunia Islam Dhurorudin Mashad di Gedung LIPI.
Sangat relevan, begitu kata Dhurorudin, sampai kapanpun tetap relevan, karena bagaimanapun juga konstelasi sosial-politik ekonomi di dunia inikan persaingan antara ide-ide, isme-isme. Bagaimanapun juga Islam harus menjadi sumber dari ideologi. Islam bukan ideologi, tapi harus dijadikan sumber ideologi oleh umat Islam. Dan itu yang harus diperjuangkan, kita tidak bisa menyerahkan kepada logika-logika thagut dan harus memperjuangkan logika-logika keislaman, bukan untuk kepentingan umat Islam tapi untuk kesejahteraan umat Manusia.
Contoh, bank syariah, bank ini menggunakan sistem Islam, meski masih ada kelemahan tetap harus diakui bahwa perjuangannya ke arah sana. Tapi dia tidak hanya berlaku untuk umat Islam, siapapun silahkan masuk. Yang penting manfaatnya bisa diperoleh. Karena itu, bank Islam tidak hanya berkembang di Indonesia, bahkan di Inggris berkembang luar biasa.
Tapi di sisi lain ada pesimisme dengan partai Islam, karena sikapnya yang pragmatis. “Bahkan ada kemungkinan-kemungkinan partai Islam kalau tidak ditinggalkan ya stagnan dalam sisi perolehan suara,” begitu analisanya.
Berikut petikannya:
Memasuki tahun baru hijriyah, apa yang bisa kita petik dari memaknai perayaan itu?
Kalau dilihat dari sisi kebangkitan umat Islam, patut disyukuri oleh umat Islam yang tentu saja berpijak kepada semangat keislaman dengan runtuhnya rezim-rezim despot (otoriter) di negara-negara Islam, terutama di negara-negara Timur Tengah. Bisa dijadikan momentum yang bagus untuk menggelorakan semangat Islam dalam konsteks alternatif politik bernegara. Selama ini kan dikuasai oleh pemahaman sekular.
Di era tahun 90-an Indonesia dianggap sebagai eranya kebangkitan Islam, apakah masih relevan?
Antara relevan dan tidak. Kalau dilihat dari semangatnya masih tinggilah (oke) tapi dari realitas pragmatisme yang dibangun oleh para pemimpin kita, patut dipertanyakan. Apakah tetap bisa menjadi contoh untuk kebangkitan Islaman di dunia Islam saat ini? Sekarang tak terdengar lagi kebangkitan Islam di Indonesia karena terjadi pragmatisme tadi, tidak ada konsistensi pemikiran dan sikap maupun ghirahnya terhadap Keislaman. Sehingga dengan sikap pragmatisme politik itu pada akhirnya pandangan masyarakat Islam di Indonesia terhadap tokoh-tokohnya juga tidak terlalu kokoh lagi. Bahkan ada kemungkinan, partai Islam kalau tidak ditinggalkan ya stagnan dalam sisi perolehan suara. Apalagi di Indonesia tidak ada partai yang murni sekular, lain dengan dulu saat Orde Lama. Dulu ada golongan santri, golongan abangan (sekular) yang bisa terlihat dia shalat atau tidak. Namun sekarang di PDIP banyak juga golongan santrinya dan shalatnya rajin dan sebagainya. Sehingga sekat-sekat antar isme-isme itu tidak pas lagi untuk saat ini.
Melihat banyaknya pragmatisme yang terjadi di pemimpin Islam, masihkah relevan kebangkitan ada di Indonesia?
Saya pikir tersebar bukan hanya di Indonesia. Tapi kalau dijadikan contoh untuk saat ini saya pesimis. Tapi dari sisi keummatan masih oke, saya masih optimis dengan tren kesadaran terhadap keislaman, tapi dari sisi politik, terutama tokoh-tokoh politiknya saat ini saya masih tidak percaya lagi. Walaupun optimisme tetap kita bangun, ketika mereka (tokoh-tokoh) politik mengalami kemunduran dari segi dukungan politik tentu mereka akan mengevaluasi lagi. Sekarang-kan belum, seandainya di pemilu 2014 nanti terjadi penurunan yang signifikan terhadap suara partai Islam, mereka akan mengevaluasi diri kenapa bisa terjadi semacam ini. Ini sangat berbeda kalau kita bandingkan, di India di situ ada fundamentalis Hindu yang menjadi partai, walaupun merugikan umat Islam tetapi ada sisi yang bisa kita pelajari dari partai itu. Dia konsisten mengeksploitasi sentimen ke-Hinduan anti Muslim, anti Barat, dan mereka konsisten. Dari tahun 1984 dia dapat 2 kursi, tahun 1989 dapat 9 kursi, 1991 dapat 114 kursi, 1996 dapat 160 kursi, tahun 1998 dapat 180 kursi. Perlu dicatat mereka konsisten dengan semangat ke-Hinduan dia. Mengeksploitasi sentimen ke-Hinduan anti Muslim, dengan berpijak pada sejarah-sejarah mereka. Mereka memperlihat tren yang selalu naik, walaupun sekarang sudah menurun, tapi dia tetap menjadi kekuatan kedua setelah partai kongres. Itu terjadi karena ada isu korupsi dan sebagainya.
Maksud saya konsistensi semacam ini bisa menjadi pelajaran jangan terlalu pragmatis dan yang penting dapat kekuasaan, padahal sekarang belum waktunya, masih berapa persen gitu. Sekarang memaksaan diri untuk berkuasa.
Adakah partai di Indonesia yang konsisten dengan sentimen keislaman?
Kalau sisi konsistensinya, sejak awal saya mempertanyakan konsistensi dia. Memang ada pragmatisme yang gege mongso (Terburu-buru), tidak sabar untuk menunggu waktu. Sehingga baru dapet segini maunya dapet kursi kekuasaan, bukan hanya di parlemen tapi juga di pemerintahan. Kalau dilihat dari partai-partai yang ada, saya mempertanyakan ghirah keislaman dia. Saya masih mempertanyakan konsistensi ghirah keislaman partai-partai yang berlabel Islam. Belum lagi terjadi friksi-friksi antar mereka, akar problematika politik Islam itu sangat mendasar di Indonesia yang sampai saat ini tidak bisa terjembatani. Paling-paling menyalahkan pihak lain tapi tidak mau mengaca diri sendiri, problemnya apa, sebabnya apa.
Partai Islam di Indonesia Tak konsistens lagi?
Iya memang ada kelemahan-kelemahan dari tokoh-tokoh Islam dari sejak dulu sampai sekarang. Kalau dulu ada koservatif dengan kalangan modernis, sekarang kalau boleh dibilang lebih banyak lagi. Dan yang konservatif juga terbelah, antara formalis dan subtansialis. Dan modernis juga begitu, terbelah antara formalis dan subtansialis. Ada yang memperjuangkan label keislaman dan ada yang memperjuangkan yang penting subtansinya. Kalau dalam Orde Lama kan tidak, semua formalisme. Mau NU, Masyumi, Muhammadiyah, memperjuangkan syariat Islam, piagam Jakarta dan seterusnya. Sekarang lebih kompleks, cuma apapun argumentasinya saya tetap berprasangka positif terhadap mereka.
Banyak negara-negara Islam pecahan Uni Soviet masih dikendalikan pihak-pihak asing, Bagaimana masa depan mereka?
Kalau kita lihat dari 2 wilayah, ada Asia Tengah dan Timur Tengah. Timur Tengah memang menunjukan tren yang sangat positif, walaupun (menurut saya) bukan kebangkitan. Menurut saya bukan sesuatu yang datang secara tiba-tiba. Tren itu sebenarnya menggeliat sejak tahun 1980-an. Cuma mereka di bawah cengkraman kaum despotik sehingga belum muncul. Sebagai contoh, di Tunisia, pada masa Ben Ali kekuatan Islam itu sudah ada cuma ditekan. Kemudian di Libya itu sendiri, sebenarnya sudah 25 tahun yang lalu (1980-an) sudah ada kekuatan Ikhwanul Muslimin di sana. Tapi kan diberangus oleh Moammar Kadafi. Tapi orang-orangnya sudah masuk ke dalam berbagai arena sosial kemasyarakatan sehingga ketika momentum tadi ada untuk menjatuhkan dan mereka muncul. Di Tunisia, partai an-Nahdah sebenarnya kalau dilihat salah satu tokohnya, Abdul Jalil, menyatakan bahwa realisasi dari gerakan Ikhwanul Muslimin di Tunisia. Sebenarnya di Libya juga sama, tapi mereka belum membuat partai sendiri, tetapi cukup berkoalisi dengan partai-partai Islam nasional yang punya referensi yang sama.
Prediksi ke depan pasca runtuhnya rejim dispotik?
Pertama, saya melihat akan berorientasi kepada semangat keislaman, bagaimanapun juga sejelek-jeleknya partai Islam, semangat keislamannya masih ada. Termasuk di Indonesia. Kedua, tahun 1990-an bangunan komunisme sosialisme runtuh, dan sekarang kita melihat tren liberalisme yang memperlihatkan kegagalan. Bagaimana saat ini di Eropa, Yunani, kemudian Portugal, bahkan Italia dan Prancis menunjukan tren kegagalan. Kalau Anda melihat ekonomi Eropa saat ini, Amerika juga belum memperlihatkan pertumbuhan yang signifikan bahkan, masih menunjukan stagnasi dari sisi ekonomi. Dan ini memperlihatkan kegagalan dari sistem liberalisme. Dan dengan munculnya semangat keislaman ini akan menjadi kekuatan alternatif yang saya pikir sangat penting untuk di cermati. Kecuali di Asia Tengah. Di sana masih belum menemukan momentum, walaupun ada kekuatan Hizbut Tahrir sudah merambah ke mana-mana. Di Timur Tengah mulai menemukan momentum yang pas untuk mengimplementasikan ide-ide keislamannya dalam konteks sosial-politik kenegaraan.
Kenapa Islam tidak membumi di Asia Tengah?
Ada perbedaan antara Asteng dan Timteng. Di Timteng kita harus mengakui bahwa Ihkwanul Muslimin sebagai induk dari gerakan Islam tengah, seperti saya katakan di Tunisia refleksi dari Ihkwanul Muslimin. Di Libya juga, kemudian di Palestina, Hamas juga harus diakui relasi dari Ikhwanul Muslimin. Kemudian di Turki, walaupun dia menyebutnya sebagai Partai Keadilan dan Kesejahteraan, saya melihat akar-akarnya tak lepas dari pengaruh sana. Dan itu ada perubahan strategi dari Ikhwanul Muslimin, jika tahun 70-an dan 80-an dia tidak mau terlibat dalam proses politik. Tetapi pertengahan 1980-an dia mengoreksi diri, mulai secara gradual masuk ke dalam proses politik. Pertama ikut koalisi dengan “Partai Wahfa” di tahun 1984. Kemudian tahun 1987 dengan partai buruh, tahun 1990 bahkan “menciptakan” sebuah partai yang bernama Hizbul Wasath. Berarti ada sebuah langkah dari yang tidak mau masuk ke dalam proses politik menjadi masuk ke dalam proses politik. Ada evaluasi diri, semacam penyesuaian terhadap tantangan sehingga perubahan strategi tadi dia bisa masuk ke dalam arena politik. Begitu juag tempat-tempat lainnya yang akarnya dari Ikhwanul Muslimin memakai cara yang sama, termasuk Indonesia. Mau diakui atau tidak yang Partai Keadilan. Tapi yang di Hizbut Tahrir tidak mau masuk dalam proses politik, demokrasi dianggap sebagian dari thaghut, kecuali kalau dia merubah langkah, tidak menggerakan massa tapi melalui jalur proses politik di Asia Tengah Insya Allah akan sama mencapai hasil melalui jalur politik.
Di Asia Tengah hanya Hizbut Tahrir?
Yang dominan adalah Hizbut Tahrir, kekuatan lain juga ada seperti Ikhwanul Muslimin, kemudian ada juga dari Jemaat Islami, perlu dicatat dia kan berbatasan dengan Pakistan, pengaruh-pengaruh dari sana juga besar. Tapi Ikhwanul Muslimin terutama, ketika era Abdullah Azzam, dia juga memberikan pengaruh di Asia Tengah.
Bagaimana membumikan kebangkitan Islam di Asia Tengah?
Pertama, kita tidak boleh gege mongso tadi, tidak boleh memaksakan diri, kalau sudah memaksakan dirikan nabrak tembok. Kedua, kalau proses penyadaran terhadap masyarakat saya pikir sudah cukup lumayan. Cukup besar keberhasilan dari Hizbut Tahrir untuk menyadarkan elemen-elemen masyarakat, untuk melihat Islam sebagai sebuah alternatif. Ketiga, yang belum memperlihatkan hasil adalah pada elemen elitnya. Itu tidak gampang, seperti di Turki, lama sekali, tahun 1983 dimulai penyadaran terhadap kaum elit. Tahun tersebut Partai Rafah menang dan dibubarkan. Sekarang muncul lagi sejak tahun 2001, 2007 dan 2011, dan di militer sudah bisa menerima. Tetapi elemen-elemen mantan Uni Soviet ini kan masih cukup dominan, kecuali kalau generasi tokoh-tokoh rezim Uni Soviet sudah tersingkir sepenuhnya daan diganti oleh tokoh-tokoh yang baru yang tidak merasakan pengaruh dari Uni Soviet terdahulu Insya Allah akan mudah dipengaruhi. Bagaimanapun juga mereka orang Islam.
Turki, Maroko dan Tunisa berhasil menggulingkan rezim dispotik, ada fenomena apa?
Saya melihat ada sebuah penyadaran di masyarakat terutama terhadap realitas bahwa Islam itu Ya’lu wala yu’la alaihi. Islam sebagai sebuah solusi. Ada 3 hal yang menyebabkan mereka berhasil. Pertama, kesadaran terhadap keagamaan sangat luar biasa di kalangan umat Islam. Itu dimulai bukan tiba-tiba, awal tahun 1980-an sudah mulai menggeliat. Cuma momentumnya sekarang-sekarang ini. Dan kesadaran keagamaan itu ada spektrumnya, dimulai dari Islam ritual dan Islam sosial-politik, dan tren ke arah sosial-politik juga semakin besar. Kedua, mereka melihat bahwa isme-isme sekular yang dibangun oleh rezim-rezim sebagai basis pembangunan ternyata gagal, dalam artian gagal mensejahterakan masyarakat. Sehingga mereka ketika muncul kekuatan-kekuatan Islam sebagai agama mereka yang selama ini hanya ritualisme memberikan tawaran sosial-politik ekonominya mereka akan mendukung. Ketiga, mereka sudah jenuh terhadap rezim-rezim despotik, baik yang berwajah barat (kebarat-baratan) maupun yang anti Barat. Jadi bukan Barat saja yang dibenci, yang anti barat pun bisa dibenci ketika memerlihatkan perilaku politik yang tidak Islami.
Kemenangan Partai Islam di Turki, Tunisia, Maroko, dan Mesir apakah bisa dikatakan kemenangan sesaat atau fundamental?
Kalau sesaat saya yakin tidak, itu sudah melalui proses yang sangat panjang. Cuma momentumnya ditemukan saat ini. Kalau Turki sudah sejak tahun ’83. Dan momentum yang pas 90 atau 91 partai Rafah dibubarkan, tapi 2001 muncul lagi, 2002, 2007 dan 2011 menang sehingga akan terus dan memperlihatkan keberhasilan yang cukup signifikan di Turki. Oleh karena itu dijadikan semacam percontohan. Dia fundamentalis tapi bisa mengintegrasikan antara prinsip sekular yang dibangun oleh militer. Karena militer sebagai garda utama dalam membangun sekular. Kalau dia anti sekular pasti akan dilibas lagi partai islamnya. Secara baju memang sekular tapi secara subtantif kental dengan keislamannya, sehingga berani anti Barat, berani anti Israel, karena ghirah keislamannya saya melihat kental sekali, tapi bajunya masih sekular. Dikarenakan kekuatan militer masih sangat kuat. Kalau dia isinya dan bajunya Islam, mungkin akan dibubarkan lagi.
Bagaimana IM di Mesir?
Dia sudah bertranformasi, keberhasilan IM mempengaruhi kawasan di sana, mau tidak mau harus diakui ya termasuk kita dipengaruhi dari sana. Mereka melakukan transformasi baik secara institusi sehingga dia tetap eksis tapi dia memasukan juga ke institusi lain. Seperti yang saya sebutkan tadi. Masuk ke partai labour, kemudian tahun ’90 dengan Hizbul Wasath, itukan realisasi dari IM juga. Jadi jangan dilihat IM sebagai institusi sendiri, tapi bagaimana kiprah dia masuk ke institusi-institusi lain. Secara baju mungkin belum bisa dikatakan menang, namun secara substantif sudah menyebar, nah sekarang yang menggejala di Timteng adalah IM.
Kemenangan yang diaraih apakah bisa dikatakan sebagai tanda kebangkitan Islam?
Sebagai salah satu tanda saya sependapat. Akan sangat sulit akan balik kembali ke belakang. Sekarang yang masih kaku kan di Tunisia, terkahir Menlunya masih mengatakan tidak ada ruang bagi partai Islam di Tunisia. Tetapi elemen-elemen Islam sudah siap-siap saja. Bahkan pemilu ’91 dapat 88%, apakah ide itu bisa diberangus? Kan tidak bisa. Hanya menunggu momentum saja.
Momen itu apakah ada di Indonesia?
Kalau di Indonesia kulturnya agak beda, dari sisi kesejarahan sudah memperlihatkan sifat akomodatif dari orang Islam, jadi muncul selangkah untuk memperoleh 2 langkah. Karena antara manfaat dan mudharat yang tokoh-tokoh Islam pertimbangkan. Seperti tidak lagi memperjuangkan Piagam Jakarta, Pancasila sudah final. Tapi kan subtansinya, jangan sampai formalitas mengalahkan subtansinya. Karena saat zaman nabi kan Dustur Madinah, bukan dustur islamiyah.
Biodata :
Nama : Dhurorudin Mashad
Tempat/Tanggal Lahir : Bojonegoro, 07 Juni 1966 :
Pendidikan :
- S1, Universitas Indonesia
- Master (S2) bidang Pengkajian Strategi Ketahanan Nasional, Universitas Indonesia
Pencapaian :
- Ketua PME IPSK LIPI, 2008-sekarang
- Wakil Ketua PME IPSK LIPI, 2005-2008
- Anggota PME IPSK LIPI, 2004-2005
Publikasi : Buku Ilmiah Mandiri
- Soedjono Djoned Poesponegoro: Menteri Riset Pertama di Indonesia (2008)
- Andai Aku Jadi Presiden: Menuju Format Indonesia Baru (2004)
- Korupsi Politik, Pemilu, dan Legitimasi Pasca Orde Baru (1999)
- Reformasi Sistem Pemilu dan Peran Sospol ABRI (1998)
- Benazir Bhutto: Profil Politisi Wanita di Dunia Islam (1996)
Buku Agama Populer:
- Kisah dan Hikmah (10 jilid: 2001-2002)
- Mutiara Hikmah Kisah 25 Rasul (2002)
- Yuk Mencari Tuhan (2005)
- Seri Kisah Jenaka Sarat Makna (5jilid: 2005)
- 16/02/2012 16:34 - Jubir HTI: Pemerintah Diskriminasi Terhadap FPI
- 16/02/2012 12:29 - Ketua Parlemen Libanon Najib Mikati: Menyongsong Fajar Perdamaian di Arab
- 25/01/2012 08:05 - Membangun Kreativitas Melalui Kids Festival dan Edufair
- 24/01/2012 11:24 - Ancaman Mendatangkan Hercules Cuma Omong Kosong!
- 18/01/2012 17:28 - Jihad, Perang dan Palestina dalam Pemikiran Al Qorodhowi
- 13/12/2011 14:35 - Dra Wirianingsih, Bc Hk MSi (Presidium BMO-IWI): "Nilai Akhlak Di Balik Jilbab"
- 30/11/2011 16:49 - Ustadz Ade Chalifah Lc (Mubaligh): “Haji Pembaharuan Identitas dan Perbaikan Visi Muslim”
- 30/11/2011 06:39 - Syamil Sultanuv, Pakar Rusia Israel Diambang Kehancuran
- 30/11/2011 06:07 - Perlunya Soliditas Rakyat Palestina
- 14/11/2011 18:29 - Ustadzah Dewi Purnamawati (Pakar Kristologi): "Pelacuran Aqidah Atas Nama Pluralisme"




