Mulailah target sasaran dakwah dari lingkungan terdekat kita sendiri. Aktiflah di tempat-tempat berkumpul manusia, kepengurusan RT/RW, Karang Taruna atau yang lebih klop menjadi Takmir Masjid setempat
Saudaraku kita berjumpa kembali di rubrik ini. Hari demi hari kita lalui dalam kebersamaan di jalan dakwah, sebagaimana doa Rabithah yang senantiasa kita lantunkan:
Ya Allah, Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu, telah berjumpa dalam taat pada-Mu, telah bersatu dalam dakwah pada-Mu, telah berpadu dalam membela syari’at-Mu.
Kukuhkanlah, ya Allah, ikatannya. Kekalkanlah cintanya. Tunjukilah jalan-jalannya. Penuhilah hati-hati ini dengan nur cahaya-Mu yang tiada pernah pudar. Lapangkanlah dada-dada kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan bertawakkal kepada-Mu. Nyalakanlah hati kami dengan berma’rifat pada-Mu. Matikanlah kami dalam syahid di jalan-Mu.
Sesungguhnya Engkaulah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Ya Allah. Amin. Sampaikanlah kesejahteraan, ya Allah, pada junjungan kami, Muhammad, keluarga dan sahabat-sahabatnya dan limpahkanlah kepada mereka keselamatan.
Saudaraku, apapun profesi Anda marilah kita pertajam komitmen dakwah kita. Nahnu du'at qabla kulli syaiin, itulah kaidahnya. Kita adalah dai, apa pun profesi lanjutannya. Menjadi apapun sekarang, profesi utamanya adalah dai. Marilah kita menjadi dai yang produktif dan senantiasa mempertajam komitmen dalam jamaah.
Mungkin saat ini Anda bukanlah orang yang memegang amanah jabatan di organisasi atau lembaga dakwah. Tapi, tanpa jabatan Anda harus tetap memegang teguh janji Anda untuk senantiasa bersama jamaah. Kitalah yang menjadi backbone (tulang punggung) bagi jamaah ini. Sebagai tulang punggung harus kuat menyangga. Agar bisa berdiri tegak tulang tak boleh rapuh. Tulang yang keropos akan melumpuhkan. Itulah perumpamaan bagi dai yang berhenti tarbiyah. Karena itu bila malas menyerang sendi-sendi tarbiyah, buatlah 1001 alasan untuk datang ke liqaat pekanan.
Sebagaimana Rasulullah saw dalam usia di atas 50 tahun justru berperang puluhan kali. Berperang dalam arti sesungguhnya dan bahkan beberapa kali menjadi komandan langsung. Di umur tua tetap seperti, fursan fin nahar (singa di siang hari). Tambah umur tambah semangat berdakwah.
Jiddiyah (kesungguhan) Rasulullah saw dalam berdakwah juga tampak pada diri sahabatnya. Seperti Khalid bin Walid ra, pribadi yang mengaku tidak tahu dimana dan dari mana kehidupannya bermula, kecuali di suatu hari dimana ia berjabat tangan dengan Rasulullah saw, berikrar dan bersumpah setia. Saat itulah dia merasa dilahirkan kembali sebagai manusia “Dialah orang yang tidak pernah tidur, dan tidak membiarkan orang lain tidur.”
Semangat dakwah harus tetap dikobarkan setiap saat, karena dakwah tidak mengenal kata “berhenti”. Seluruh lini dakwah: siyasi, ilmi, dan da’awi, harus tetap berjalan dalam keadaan apapun. Dakwah yang begitu berat harus dihadapi dengan keteguhan hati aktivisnya. Begitu pula sebaliknya, keberhasilan kader-kader dakwah dalam merebut pelbagai posisi strategis bukan semata ukuran sukses bahwa dakwah telah mencapai garis finish.
Berpikir besar, itulah kuncinya. Mengacu pada David J. Schwartz, kita harus melihat kemungkinan-kemungkinan yang terjadi dalam aktivitas dakwah. Seorang aktivis dakwah harus melihat peluang yang ada dan merumuskan peluang tersebut menjadi sebuah keberhasilan. Jika menurut Schwartz visualisasi akan menambah nilai pada kemungkinan dan peluang tersebut, seorang aktivis dakwah patut merumuskan strategi dakwahnya sesuai kondisi yang menyertainya. Nilai tambah, dalam bahasa agama kita menyebutnya sebagai keberkahan.
Hal lain yang disebutkan oleh Schwartz adalah berpikir kreatif. Harakah artinya tetap bergerak, sebuah huruf hijaiyah akan bunyi bila telah diberi harakat. Bergerak dan terus bergerak inilah yang akan mengangkat harkat kita. Dalam gerak ada keberkahan. Harakah barakah.
Dengan terus bergerak, kita bisa melihat ke mana arah itu menuju. Bahkan kita bisa menjadi arus pusaran itu sendiri. Aktif ke masjid misalnya dalam shalat berjamaah. Terus meramaikannya dengan itikaf seperti saat Ramadhan kemarin. Ini akan bermanfaat sebagai pemantauan terhadap potensi pengembangan dakwah atau sebaliknya ancaman bagi dakwah itu sendiri akan kita kenali.
Jadi jangan sibuk di kamar-kamar liqoat saja. Tapi kehadirannya tidak terasakan oleh lingkungan di mana dai itu tinggal. Keasyikan dengan diri sendiri atau dengan grup liqo saja harus diwujudkan di masyarakat. Menyatu dengan masyarakat akan menghindari fitnah. Sehingga kehadiran kiat bermanfaat untuk masyarakat sekitar. Apalagi Indonesia yang mayoritas Muslim.
Janganlah kita merasa telah berada di lembah ketinggian, sementara orang-orang di sekitar kita masih berada di bawah jurang. Mereka menjulurkan tangan, namun kita diam saja. Atau perumpamaan yang lain adalah seperti bencana kebakaran yang menimpa tetangga, yang kalau dibiarkan akan merembet pula ke rumah kita. Mulailah target sasaran dakwah dari lingkungan terdekat kita sendiri. Aktiflah di tempat-tempat berkumpul manusia, kepengurusan RT/RW, Karang Taruna atau yang lebih klop menjadi Takmir Masjid setempat.
Nyatanya setiap masjid berbeda kepengurusannya. Ada masjid yang bersifat kerajaan pengurusnya turun temurun. Ada yang demokratis, pemilihnya dipilih sesuai suara terbanyak. Ada juga masjid milik yayasan tertentu atau kampus. Karakteristik yang berbeda tersebut kemudian membawa para aktivis dakwah kepada sebuah perumusan strategi yang tepat untuk dijadikan ujung tombak dalam beraktivitas. Hal ini yang membuat seorang aktivis harus mengenal lahan dakwahnya sendiri (ta’rif al-maydan).
Ukuran keberhasilan dakwah bukanlah ukuran-ukuran kuantitatif atau ukuran-ukuran yang kasat mata. Keberhasilan dakwah adalah jika dakwah ini telah diridhai oleh Allah SWT. Dengan demikian, hanya pertolongan dan hidayah Allah-lah yang akan menolong kita menghadapi tribulasi dakwah tersebut. Jadi, meski bangunan dakwah menjulang tinggi tapi bila ghirah penghuninya melemah, maka bangunan itu pun akan segera runtuh. (Eman Mulyatman)
- 03/10/2011 19:31 - Tugas dan Hak Murabbi
- 22/08/2011 00:45 - Mendamba Amil Profesional, Amanah dan Beretika
- 21/02/2011 22:12 - MUSLIMAH HIZBUT TAHRIR INDONESIA “BEREDARNYA SUSU FORMULA TERCEMAR BAKTERI”
- 16/02/2011 16:26 - Ada Mumi di Menoreh
- 16/02/2011 13:23 - Alasan Karier Enggan Menjadi Seorang Ibu



