Diasuh oleh: Dr Mu'inudinillah Basri MA, Ketua Program MPI Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Cyber Sabili-Jakarta. “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang. (Meraka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberikan balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya ALlah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas,” (QS An-Nuur [24]: 37-38)
Ayat di atas merupakan sebuah solusi tepat dalam memperbaiki bangsa dan negara Indonesia yang dilanda kerusakan di semua lini. Solusi dimulai dari perbaikan SDM agar menjadi pribadi shalih (baik), dan muslih (melakukan perbaikan), SDM yang shalih dan muslih muncul dari kelurusan orientasi hidup yang melahirkan kelurusan tingkah laku, cara pandang dan sikap, orientasi mengejar kenikmatan dan kebahagiaan subtantif, kebahagian hati, orientasi akhirat, kebahagiaan mendapatkan ridha Allah, aman dan selamat dari noda dosa dan hukumannya, dunia dan akherat. Orientasi yang menjadikan seseorang istiqamah dalam kebaikan, taat aturan, halal dan haram.
Yang orientasi hidupnya Ridha Allah, pasti aktif dan produktif di seluruh pekerjaannya. Orientasi ridha Allah bukan berarti kehilangan dunia, bahkan akan membawa keberkahan dunia akhirat, kalaupun tidak mendapatkan dunia, karena sistem yang berkuasa sudah rusak sehingga keuntungan, posisi dan jabatan tidak didapatkan kecuali dengan cara haram, maka ridha Allah sudah cukup sebagai pengganti dunia yang haram.
Orientasi Ridha Allah mejadikan seseorang selalu dzikrullah, menegakkan shalat dan membayar zakat dalam kondisi apapun, aktifitas dunia tidak akan melalaikan kewajibat ibadah, da’wah dan sosial. Allah akan membalas orang beriman dengan balasan yag terbaik apa yang dilakukan didunia, kalau orang beriman kwalitas amalnya fluktuatif di akherat akan membalas dengan ukuran amalan yag terbaik apa yang dia lakukan, di tambah bonus dari karunniaNya, dan rizki tanpa hitungan.
Akhirat jauh lebih baik dari dunia yang tidak membawa ketaatan, perumpamaan dunia dan akhirat adalah seperti telunjuk yang dimasukkan di laut, air yang menempel di telunjuk adalah dunia, sedang yang masih sisa di laut adalah akhirat. Di dalam shahih Muslim disampaikan Allah memiliki seratus rahmat, Dia turunkan di dunia sejak Awal dunia sampai hari kiamat satu persen dibagi untuk seluruh makhluqNya, dan pada hari kiamat Allah sempurnakan yang 99 persen untuk hamba hamba Allah yang beriman, jadi sebesar apapun kenikmatan dunia tidak akan sampai satu persen, untuk mendapatkannya seseorang siap berkorban dengan pengorbanan yang besar, bagaimana dengan Ridha Allah dan rahmat-Nya yang 99 % bukankah lebih pantas untuk dikejar.
Ridha Allah suatu yang paling pantas kita kejar dengan segala amal kita, surga Allah adalah dagangan Allah, yang Dia tawarkan kepada kita, dan Diapun sudah memutuskan kontrak jual beli dengan orang orang yang beriman akan utamanya akherat di banding dengan dunia, Rasulullah saw : “ketahuilah dagangan Allah itu mahal, ketahuilah dagangan Allah itu mahal, ketahuilah dagangan Allah itu surga” HR Hakim da disahihkan oleh Dzahabi
Orang yang orientasi hidupnya ridha Allah akan berfikir subtantif yag penting bukan jumlah materi tapi seberapa jauh mafaatya dunia akhirat, uang ratusan milyar bahkan puluhan trilyun jika di dapat dengan haram di mata orang beriman tidak ada gunanya, dunia maupun akherat bahkan akan menjadi beban siksaan dan kehinaan, demikian juga kenikmatan jabatan maupun syahwat tidak ada ma’nanya jika berakibat siksaan berkepanjangan di ahirat, dan kehilangan nikmat surga dan keridhaan Allah SWT.
Orang beriman bukan anti dunia, bukan anti fasilitas, melainkan ingin mendapatkan dengan cara halal, digunakan untuk halal dan ketaatan, dengan demikian dunia benar benar menjadi lading aherat, dan menjadikendaraan atau sarana keaherat. Allah SWT berfirman : “Manusia dihias hiasi dengan cinta terhadap kaum wanita, anak, harta yangbergunung gunung, dari emas dan perak, kuda yang ditandai, binatang ternak, da ladang, itulah kenikmatan kehidupan dunia, dan di sisi Allah tempat kembali yang baik, katakanlah : maukah aku tunjuki yang lebih baik dari hal itu untuk orang yang bertaqwa di sisi Rabb mereka taman taman yang megalir di bawahnya sugai sungai mereka kekal di dalamya, da istriistri yang disucikan da keridhaan dari Allah, da Allah Maha melihat hamba hambaNya, ” (QS Ali Imran [3] : 14-15).
Sumber: Majalah Sabili No 08/XIX, 19 Januari 2012
- 15/05/2012 09:39 - Kebobrokan Syirik Dalam Kehidupan Sosial
- 13/12/2011 14:03 - Kehancuran Negeri
- 30/11/2011 17:06 - Momen Indah Menuju Jannah
- 14/11/2011 19:18 - Kebahagiaan Insan Bertaqwa
- 20/10/2011 13:57 - Kecerdasan Iman (1)
- 07/09/2011 16:02 - Suami Meninggal dan Aku dirongrong Penyakit




