Diasuh oleh: Dr Mu'inudinillah Basri MA, Ketua Program MPI Universitas Muhammadiyah Surakarta.
Dan jika Kami menghendaki untuk menghancurkan suatu penduduk negeri, Kami perintahkan orang-orang yang bergelimang dalam kekayaan lantas mereka berbuat fasik di dalamnya. Kemudian tetaplah atas mereka keputusan (Allah), maka Kami hancurkannya sehancur-hancurnya. (QS al-Isra’: 16)
Cyber Sabili-Jakarta. Ayat di atas merupakan satu sisi sunnatullah tentang keberlangsungan suatu negeri dengan kehancurannya, yaitu ketika para konglomeratnya berbuat kefasikan, menyombongkan diri, memamerkan kekayaannya dengan kesombongan. Seperti kisah Qarun yang diteggelamkan Allah ke bumi karena menyombongkan diri dengan kekayaannya. Dalam ayat di atas ada kata “amarnaaha” yang memiliki beberapa penafsiran, yaitu pertama, kami jadikan orang-orang konglomerat menjadi penguasa lantas mereka berbuat fasik.
Kedua kami perintahkan orang konglomerat beriman dan taat malah mereka berbuat fasik. Tafsiran ketika “Kami jadikan mereka para konglomerat berjumlah banyak, lantas mereka berbuat fasik, maka tiga penafsiran ini benar, ada benang merahnya dari sisi bahasa.
Suatu negeri dapat dikatakan baik jika orang-orang memiliki kekayaan berupa harta, ilmu, kekuasaan serta iman yang kuat tetapi mereka malah berbuat kerusakan di bumi. Kerusakan yang mereka perbuat akan menjadi virus yang menular dengan cepat pada masyarakat dan ketika itu tetaplah keputusan Allah bagi negeri itu untuk dihancurkan.
Dalam hadits shahih, Muslim Zaenab binti Jahsy bertanya : “Wahai Rasulullah, apakah kita dibinasakan sementara di tengah-tengah kita ada orang orang shalih? Nabi bersabda :Yaa jika perzinaan (penyimpangan seksual) merata”.
Jika kekayaan sudah menjadi tujuan hidup dan tidak lagi menjadi sarana ibadah, maka negeri akan dipenuhi berbagai kemaksiatan. Kekayaan itu diperoleh dengan menghalalkan berbagai cara, seperti korupsi, suap menyuap dan pungli yang dapat menyengsarakan rakyat. Para penguasa negeri untuk mendapatkan kekuasaaan dengan cara money politik, yaitu membeli suara nurani rakyat. Dengan demikian, yang berkuasa di negeri ini adalah kaum kapitalis yang akan memperbudak rakyat dan membebani berbagai pungutan dan pajak yang mencekik.
Berangkat dari tamak terhadap harta yang penuh rasa bangga, maka munculah berbagai bisnis narkoba, prostitusi, bahkan teroris menciptakan dunia teroris dengan mencari dana dari Barat padahal mereka sendiri yang menciptakannya, seperti yang terjadi di negeri ini. Ketika harta yang didapat dengan cara haram, maka penggunaannya dengan cara haram pula. Mereka mementingkan prestise seperti membeli barang yang bermerk dengan harga yang cukup mahal. Kita biasa membeli tas dengan harga ratusan ribu, mereka membeli sampai jutaan, padahal dari segi kualitas dan penampilannya pun sama dengan harga yang murah. Namun, mereka rela dan senang menggunakan harta yang haram dengan penuh kemewahan.
Islam tidak melarang seseorang untuk kaya, memakai baju dan sepatu yang indah, tetapi dilarang untuk membanggakan dan memamerkan kekayaannya kepada publik. Rasulullah bersabda, “Makanlah, minumlah berpakaianlah sesukamu tanpa berlebih-lebihan dan tanpa kesombongan.” (HR Bukhari,Ahmad dan Abu Dawud)
Jadi, kalau sudah berlebih-lebihan, seperti membeli mobil yang harganya milyaran hanya ingin mentereng dan supaya prestisnya naik, maka membeli milyaran tanpa mengindahkan perasaan fuqara dan masakin bahkan sampai melalaikan hak-hak mereka itulah yang tercela.
Cukuplah pada kisah Qarun yang memamerkan kekayaaannya di hadapan kaumnya dengan penuh kesombongan dan merasa bahwa kekayaan hanya didapat karena kecerdasannya. Kemudian Allah menenggelamkannya ke bumi menjadi pelajaran bagi mereka. Lihat QS Qashash: 76-83
Orang yang membanggakan kekayaan dengan penuh kesombongan akan tenggelam dalam perbudakan harta. Lalu, ditenggelamkannya ke bumi dalam kehinaan bahkan di akhirat nanti akan dihinakan Allah dalam siksanya yang abadi, dalam hadits dikatakan: “Ada seorang laki-laki yang berjalan sombong lantas Allah tenggelamkan ke bumi dan dia terus disiksa dengan dimasukkan ke perut bumi sampai hari kiamat” (Thabarany Abu Ya’la)
Sekali lagi Islam tidak melarang seorang menjadi kaya, menikmati kekayaaan yang masih dalam batas Ibadah. Bahkan perjuangan tanpa membanggakan dan menyombongkannya. Kekayaan yang dimilki tidak hanya harta, tetapi hati yang ikhlas berinfak dijalan Allah. Harta bukan tujuan hidup dan tidak pula klimaks ilmu, melainkan dipandang sebagai karunia Allah. Tidaklah digunakan kecuali untuk kebaikan dengan penuh tawadhu.
Sumber: Majalah Sabili No 05/XIX, 8 Desember 2011.
- 15/05/2012 09:39 - Kebobrokan Syirik Dalam Kehidupan Sosial
- 19/01/2012 17:34 - Orientasi Akhirat Solusi Masalah Bangsa.
- 30/11/2011 17:06 - Momen Indah Menuju Jannah
- 14/11/2011 19:18 - Kebahagiaan Insan Bertaqwa
- 20/10/2011 13:57 - Kecerdasan Iman (1)
- 07/09/2011 16:02 - Suami Meninggal dan Aku dirongrong Penyakit
- 22/08/2011 01:13 - Saling Mengingatkan Ala Relawan




