Jum'at, 18. Mei 2012

Last update08:40:36 AM GMT

Index Berita : Oase Lentera Kehancuran Negeri

Kehancuran Negeri

E-mail Cetak PDF
Ustadz_Tadabur

Diasuh oleh: Dr Mu'inudinillah Basri MA, Ketua Program MPI Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Dan jika Kami menghendaki untuk menghancurkan suatu penduduk negeri, Kami perintahkan orang-orang yang bergelimang dalam kekayaan lantas mereka berbuat fasik di dalamnya. Kemudian tetaplah atas mereka keputusan (Allah), maka Kami hancurkannya sehancur-hancurnya. (QS al-Isra’: 16)

Cyber Sabili-Jakarta. Ayat di atas merupakan satu sisi sunnatullah tentang keberlangsungan suatu negeri dengan kehancurannya, yaitu ketika para konglomeratnya berbuat kefasikan, menyombongkan diri,  memamerkan kekayaannya dengan kesombongan. Seperti kisah Qarun yang diteggelamkan Allah ke bumi karena menyombongkan diri dengan kekayaannya. Dalam ayat di atas ada kata “amarnaaha” yang memiliki beberapa penafsiran, yaitu pertama, kami jadikan orang-orang konglomerat menjadi penguasa lantas mereka berbuat fasik.

Kedua kami perintahkan orang konglomerat beriman dan taat malah mereka berbuat fasik. Tafsiran ketika “Kami jadikan mereka para konglomerat berjumlah banyak, lantas mereka berbuat fasik, maka tiga penafsiran ini benar, ada benang merahnya dari sisi bahasa.

Suatu negeri dapat dikatakan baik jika orang-orang memiliki kekayaan berupa harta, ilmu, kekuasaan serta iman yang kuat tetapi mereka malah berbuat kerusakan di bumi. Kerusakan yang mereka perbuat akan menjadi virus yang menular dengan cepat pada masyarakat dan ketika itu tetaplah keputusan Allah bagi negeri itu untuk dihancurkan.

Dalam hadits shahih, Muslim Zaenab binti Jahsy bertanya : “Wahai Rasulullah, apakah kita dibinasakan sementara di tengah-tengah kita ada orang orang shalih? Nabi bersabda :Yaa jika perzinaan (penyimpangan seksual) merata”.

Jika kekayaan sudah menjadi tujuan hidup dan tidak lagi menjadi sarana ibadah, maka negeri akan dipenuhi berbagai kemaksiatan. Kekayaan itu diperoleh dengan menghalalkan berbagai cara,  seperti korupsi, suap menyuap dan pungli yang dapat menyengsarakan rakyat. Para penguasa negeri untuk mendapatkan kekuasaaan dengan cara money politik, yaitu membeli suara nurani rakyat. Dengan demikian, yang berkuasa di negeri ini adalah kaum kapitalis yang akan memperbudak rakyat dan membebani berbagai pungutan dan pajak yang mencekik.

Berangkat dari tamak terhadap harta yang penuh rasa bangga, maka munculah berbagai bisnis narkoba, prostitusi, bahkan teroris menciptakan dunia teroris dengan mencari dana dari Barat padahal mereka sendiri yang menciptakannya, seperti yang terjadi di negeri ini. Ketika harta yang didapat dengan cara haram, maka penggunaannya dengan cara haram pula. Mereka mementingkan prestise seperti membeli barang yang bermerk dengan harga yang cukup mahal. Kita biasa membeli tas dengan harga ratusan ribu, mereka membeli sampai jutaan, padahal dari segi kualitas dan penampilannya pun sama dengan harga yang murah.  Namun, mereka rela dan senang menggunakan harta yang haram dengan penuh kemewahan.

Islam tidak melarang seseorang untuk kaya, memakai baju dan sepatu yang indah, tetapi dilarang untuk membanggakan dan memamerkan kekayaannya kepada publik. Rasulullah bersabda, “Makanlah, minumlah berpakaianlah sesukamu tanpa berlebih-lebihan dan tanpa kesombongan.” (HR Bukhari,Ahmad dan Abu Dawud)

Jadi, kalau sudah berlebih-lebihan, seperti membeli mobil yang harganya milyaran hanya ingin mentereng dan supaya prestisnya naik, maka membeli milyaran tanpa mengindahkan perasaan fuqara dan masakin bahkan sampai melalaikan hak-hak mereka itulah yang tercela.

Cukuplah pada kisah Qarun yang memamerkan kekayaaannya di hadapan kaumnya dengan penuh kesombongan dan merasa bahwa kekayaan hanya didapat karena kecerdasannya. Kemudian Allah menenggelamkannya ke bumi menjadi pelajaran bagi mereka. Lihat  QS Qashash: 76-83

Orang yang membanggakan kekayaan dengan penuh kesombongan akan tenggelam dalam perbudakan harta. Lalu, ditenggelamkannya ke bumi dalam kehinaan bahkan di akhirat nanti akan dihinakan Allah dalam siksanya yang abadi, dalam hadits dikatakan: “Ada seorang laki-laki yang berjalan sombong lantas Allah tenggelamkan ke bumi dan dia terus disiksa dengan dimasukkan ke perut bumi sampai hari kiamat” (Thabarany Abu Ya’la)

Sekali lagi Islam tidak melarang seorang menjadi kaya, menikmati kekayaaan yang masih dalam batas Ibadah. Bahkan perjuangan tanpa membanggakan dan menyombongkannya. Kekayaan yang dimilki tidak hanya harta, tetapi hati yang ikhlas berinfak dijalan Allah. Harta bukan tujuan hidup dan tidak pula klimaks ilmu, melainkan dipandang sebagai karunia Allah. Tidaklah digunakan kecuali untuk kebaikan dengan penuh tawadhu.

Sumber: Majalah Sabili No 05/XIX, 8 Desember 2011.


Berita Terbaru:
Berita Sebelumnya:

Features

Ma'had Daarussunnah Bekasi

Ma'had Daarussunnah Bekasi

  Ma'had Daarussunnah Bekasi Kami menawarkan PRO...
Rabu, 16 May 2012 14:06
Kebobrokan Syirik Dalam Kehidupan Sosial

Kebobrokan Syirik Dalam Kehidupan Sosial

  ...
Selasa, 15 May 2012 09:39
Masjid Agung Brimob Mestinya Difungsikan untuk Umum!

Masjid Agung Brimob Mestinya Difungsikan untuk Umum!

Masyarakat Depok saat ini mengharapkan adanya...
Senin, 14 May 2012 10:53
Marwah Filindo, Anak Indo-Palestina

Marwah Filindo, Anak Indo-Palestina

  ...
Kamis, 10 May 2012 16:43

Geng Motor; Kecacatan Sistematis

  ...
Jumat, 04 May 2012 13:59
MENJADI DAI& DAIYAH MILYADER

MENJADI DAI& DAIYAH MILYADER

  ...
Kamis, 26 April 2012 09:28
RUU KKG, Program Penghancuran Perempuan

RUU KKG, Program Penghancuran Perempuan

Bulan April sangat identik dengan isu seputar...
Selasa, 24 April 2012 13:13
Geng Motor Bukti Lemahnya Hukum Indonesia

Geng Motor Bukti Lemahnya Hukum Indonesia

  ...
Selasa, 24 April 2012 13:07
Mantan Ldii “Curhat” ke Miumi

Mantan Ldii “Curhat” ke Miumi

  ...
Rabu, 18 April 2012 11:17
Rindu Makanan Jadul yang Enak Dan Unik?

Rindu Makanan Jadul yang Enak Dan Unik?

  ...
Senin, 16 April 2012 12:17
Manfaat Sujud

Manfaat Sujud

  BC dari sahabat>Tahukah anda? Sujud melibatkan...
Senin, 16 April 2012 11:57