Diasuh oleh: Dr Mu'inudinillah Basri MA, Ketua Program MPI Universitas Muhammadiyah Surakarta.
"Dan orang-orang yang menjauhi menyembah thaghut dan kembali kepada Allah bagi mereka kabar gembira maka berikan kabar gembira kepada hamba-hamba-Ku. Orang orang yang mendengarkan ucapan dan mengikuti yang terbaik merekalah orang-orang yang ditunjuki oleh Allah dan merekalah orang-orang yang berakal,” (QS az-Zumar 17-18)
Cyber Sabili-Jakarta. Bahagia dalam Islam tidak identik dengan kekayaan, jabatan, fasilatas hidup yang lengkap, melainkan berkaitan dengan kepuasan hati. Bisa saja semua yang di atas dicapai ternyata banyak yang belum bahagia. Kebahagiaan ada yang semu dan ada yang hakiki, ada yang sementara dan ada yang abadi. Tanpa dimungkiri ada kebahagiaan yang dirasakan oleh orang yang mendapatkan kecukupan materi, tapi kebahagiaan itu adalah semu sementara. Adapun setelah kematian sungguh semua materi tidak akan berarti.