Cyber Sabili-Cairo. Ikhwanul Muslimin, kekuatan oposisi terbesar di Mesir yang juga menjadi inspirasi gerakan Islam dunia, Rabu (19/1/2011), memperingatkan rezim Presiden Hosni Mubarak bahwa “Jika tidak bergerak cepat melakukan reformasi, maka stabilitas tidak akan bertahan lama.” Menurut Ikhwan, faktor yang memicu pengguligan rezim Tunisia juga ada di Mesir.
Pernyataan Ikhwan ini tertuang dalam sebuah pernyataan: “Intifada Tunisia merupakan sebuah pesan bagi semua orang yang tertindas dan sabar bahwa mereka bisa berbuat banyak, tidak selamanya lemah."
Pernyataan itu juga mengatakan, "Pesan bagi para penguasa yang zalim dan rezim yang korup bahwa mereka tidak selamanya aman, dan mereka sedang berada di atas gunung berapi kemarahan rakyat.”
Pernyataan itu menambahkan: “Kita dapat mengatakan dengan penuh keyakinan dan kepastian bahwa alasan dan motif yang menyebabkan penggulingan yang diberkati di Tunisia telah ada di banyak negara, khususnya di negeri kami, Mesir.”
Ikhwan menekankan bahwa “Rezim yang berkuasa di negara ini, dibandingkan dengan yang lainnya, memiliki lebih banyak kemampuan untuk melakukan reformasi dan berubahan jika ia punya kemauan dan keinginan.”
Ikhwan memperingatkan bahwa “Jika rezim tidak bergerak cepat untuk memikul tanggung jawab dan mengambil inisiatif guna memulai proses reformasi secara serius, maka stabilitas tidak akan bertahan lama.”
Ikhwan melanjutkan, untuk menghindari “dampak kemarahan yang terjadinya tidak diperhitungkan,” maka Ikhwan menuntut serangkaian tindakan, termasuk “penghapusan keadaan darurat” yang diberlakukan di negara selama hampir 30 tahun; pembubaran Dewan Rakyat palsu.
Ikhwan juga menuntut, penyelenggaraan pemilu yang bersih, bebas dan adil; amandemen konstitusional untuk menjamin kebebasan pencalonan dalam pemilihan presiden yang dijadwalkan September mendatang.
Untuk urusan luar negeri, Ikhwan mendesak agar Mesir segera melakuan peninjauan kembali kebijakan luar negerinya, terutama terhadap Zionis, keharusan untuk memutus hubungan dengannya, dengan mendukung jihad warga Palestina yang dipimpin Hamas, membebaskan tanah Palestina, tanah Arab dan Islam, dan pembentukan negara Palestina dengan ibukota Al-Quds.
Pihak oposisi Mesir menegaskan bahwa Majelis Rakyat sekarang hasil pemilihan yang berlangsung November lalu dipenuhi dicurangi dalam skala besar, sehingga legitimasi Parlemen masih dipertanyakan.
Pihak oposisi Mesir sejak beberapa tahun yang lalu telah menuntut sebuah amandemen konstitusi yang secara khusus memberi kesempatan untuk pencalonan independen pada pemilihan presiden, di mana hal itu hampir tidak mungkin dengan persayaratan yang ditetapkan dalam konstitusi sekarang.
Presiden Mesir Hosni Mubarak, yang pada bulan September mendatang telah sempurna berkuasa selama 30 tahun, belum mengumumkan apakah ia berencana mencalonkan dirinya atau tidak untuk jabatan keenam kalinya selama enam tahun ke depan.
Begitu juga dengan putranya, Gamal Mubarak, niatnya masik diliputi teka-teki, meskipun spekulasi telah beredar tentang keinginannya untuk menggantikan ayahnya. (islamtoday.net/Dwi).
- 27/01/2011 12:11 - Argentina Legalkan Jilbab Bagi Muslimah
- 26/01/2011 11:07 - Ikut Tabligh, Muslim Uzbekistan Dipenjara 7 Tahun
- 26/01/2011 10:51 - 21 Ulama Muslim Dukung Pembekuan Dialog dengan Vatikan
- 23/01/2011 12:31 - Al-Azhar Hentikan Dialog dengan Vatikan
- 23/01/2011 01:23 - Mufti Saudi: Fatwa Haram Atas Aksi Bakar Diri
- 20/01/2011 06:17 - Israel Khawatir Islam Berkuasa di Tunisia
- 20/01/2011 05:56 - Mantan Presiden Tunisia Pendukung Utama Israel
- 20/01/2011 05:42 - Keluarga Presiden Tunisia Terguling Bawa Kabur 1,5 Ton Emas
- 20/01/2011 05:27 - Inilah Diktator Tunisia Yang Digulingkan Rakyat
- 14/01/2011 16:36 - Awal 2011, 67 Warga Palestina Diculik Israel




