Cyber Sabili Ramah Tegas dan di Perhitungkan

Tuesday
Feb 09th
Tampilan
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Oase Ya Rabbi Sang Penyendiri

Sang Penyendiri

E-mail Cetak PDF
lonely_desertIa termasuk generasi assabiqunal awwalun yang mula-mula masuk Islam. Mantan perampok dari Bani Ghifar bernama Jundub bin Junadah ini termasuk sahabat dekat Rasulullah saw. Setelah bertauhid, ia terkenal dengan sebutan Abu Dzar al-Ghifari.
Abu Dzar sangat mencintai Nabi Muhammad, pun sebaliknya. Di Madinah, ia berkhidmat melayani berbagai kepentingan Rasulullah dan keluarganya. Tak heran jika ia banyak menimba ilmu dari beliau.

Merasa dekat dan disayang Nabi Muhammad, suatu ketika Abu Dzar mencoba meminta jabatan. Mendengar permintaan tersebut, Rasulullah menepuk pundaknya seraya berpesan, “Wahai Abu Dzar, engkau seorang yang lemah, sementara kepemimpinan itu adalah amanah. Dan nanti pada hari kiamat, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan kecuali orang yang mengambil dengan haknya dan menunaikan apa yang seharusnya ia tunaikan,” (HR Muslim).

Mematuhi pesan junjungannya, Abu Dzar menjadi “proletar”, anti birokrasi dan kemapanan. Walau begitu, ia tetap mengingatkan mereka-mereka yang lena dengan kenikmatan duniawi agar sadar diri, eling dan waspada.

Tak pelak sikapnya ini menuai kontroversi. Ia dianggap aneh, ganjil dan ‘asing’. Padahal saat itu Islam tengah berjaya, dan para sahabat terkemuka banyak yang mendapatkan kedudukan istimewa dalam pemerintahan.

Keteguhan prinsipnya membuat lelaki yang disebut sebagai manusia paling jujur oleh Rasulullah itu ‘terkucilkan’ dari pergaulan. Ia pun menjalani lelaku uzlah; menyepi dari kerumunan manusia. Hidup menyendiri di perbukitan Rabadzah di luar kota Madinah, hingga maut menjemputnya.

Abu Dzar dikenal memiliki solidaritas sosial yang tinggi, peduli dengan kaum papa dan marginal, serta bersikap wala’ dan zuhud. Rasulullah pernah mendoakannya, “Semoga Allah SWT mengampuni Abu Dzar. Ia berjalan sendirian, akan mati sendirian dan akan dibangkitkan kembali sendirian.”

Kini di negeri ini, orang-orang yang mengaku besar dan ternama tengah berlomba-lomba berebut jabatan dan kedudukan. Melakukan segala macam cara demi pemenuhan ambisi dan kuasa sesaat. Orang-orang seperti Abu Dzar al-Ghifari jarang muncul ke permukaan.

Padahal meleburkan diri dalam kancah ini bukanlah suatu kehinaan, juga tidak menghilangkan kemuliaan. Abu Dzar telah membuktikan, bahwa “kesendirian” itu sama mulianya dengan gempita kekuasaan.

Berita Terkait:
Berita Terbaru:

Komen
Tambah Komen Cari
Tulis Komen..
Nama:
Email:
 
Keterangan:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:

 

Perspektif Herry Nurdi

 

Belajar Syahadat dari para Syuhada

Allama Mohammad Iqbal pernah berkata, “Aku beritahu kamu, tanda-tanda orang beriman. Ketika kemati...

Resensi Buku

Membongkar Rencana Israel Raya
article thumbnail Anda akan mendapatkan informasi yang banyak tentang rencana keji Zionis Israel di buku ini....

Wawancara Terkini

 

Suripto: Zionis di Balik Kehancuran Negeri Muslim

Sampai kapan pun, Barat tidak akan rela jika negeri-negeri Muslim menjadi kuat, bersatupad...

 

Ahmad Y. Majdoubeh: Israels Silent War

Jika Anda bertanya tentang Timur Tengah dan kontribusi Israel pada banyak orang di dunia, ...

Lintas Dunia

 

Pendidikan Islam Serbia Terancam Tutup

Lembaga-lembaga pendidikan yang sedang menghadapi krisis finansial yang menghambat mer...

 

Lobi Zionis dibalik Pelarangan Hijab di Perancis

Lobi-lobi Zionis yang aktif di Perancis ternyata otak dari pelarangan jilbab di negara ini...