Thursday
Sep 09th
Tampilan
  • Increase font size
  • Default font size
  • Decrease font size
Home Berita Wawancara Fathuddin Ja’far MA, Direktur Spiritual Learning Centre

Fathuddin Ja’far MA, Direktur Spiritual Learning Centre

E-mail Cetak PDF

Sejak tahun 1997, saya sudah memiliki Mercedes 500, jadi sorry saja. Duluan saya memiliki Mercedes dari kalianMenegakkan Islam Melalui Partai Hanya Fatamorgana


Sebagai orang yang sudah malang melintang dalam gerakan Islam, ia mengetahui hampir semua sisi baik dan buruk gerakan-gerakan Islam yang ada di negeri ini. Sejak 1983, ia sudah berinteraksi dengan sebuah gerakan Islam yang mencita-citakan tegaknya Izzatul Islam wal Muslimin di bumi Indonesia. Ia tak hanya berinteraksi, tapi mengabdi secara bertahap dari posisi bawah (anggota) hingga mendapat amanah menjadi pejabat Eselon I di dalam jamaah.


Tak heran, jika ia pun memahami bahwa di dalam organisasi jamaah terdapat noda hitam yang mengancam keberlangsungan perjuangan jika tak ada upaya perbaikan.

”Saya mengupayakan perubahan melalui jalur formalitas atau  konstitusional, sedangkan beberapa kawan lain melalui jalur tarbiyah atau  pendekatan masyaikh. Ternyata, keduanya gagal. Bahkan yang dilakukan temen-teman sampai periode ini juga gagal,” tutur Ustadz  Fathuddin Ja’far MA.

Ustadz yang kini menekuni bidang Spiritual Learning Centre dan tinggal di kawasan Depok, Jawa Barat ini, pada Rabu (24/6), berkunjung ke Majalah Sabili. Kesempatan ini pun tak disia-siakan oleh awak redaksi untuk berdiskusi tentang gerakan Islam, politik Islam, partai Islam dan masa depannya.

Berikut petikannya:   

Pasca pemilu legislatif dan menjelang pilares bagaimana kondisi partai Islam?

Dalam Pemilu 2009 ini, dari sisi perolehan suara, suara partai Islam dan berbasis masa Islam (selanjutnya disebut partai Islam, red) tidak signifkan. Demikian juga dilihat dari konsep perjuangan yang diusung, jauh dari nilai-nilai Islam. Konsep perjuangan partai Islam ibarat “lalat berkerumun dan menempel di pantat sapi.” Ini semua karena mereka menyukai yang ”kotor-kotor dan bau-bau.” Waktu saya dulu ngaji pada almarhum Ustadz Rahmat Abdullah, beliau selalu mengingatkan untuk memperhatikan binatang Ju’la (semacam serangga yang hidup di tanah). Binatang ini selalu mencari yang kotor-kotor dan bau-bau seperti, kotoran kambing. Setelah mendapatkan barang yang dicari, ia lantas mendorong dengan berjalan mundur menuju sarangnya. Ketika kotoran kambing itu disemprot minyak wangi atau diganti dengan roti, ia tidak mau mendorong, ngumpet di sarang. Jadi, kondisi partai Islam seperti ini. Mereka tak lagi memiliki jati diri.

Seharusnya, partai Islam bagaimana?

Islam itu bersih, kuat, independen, dan mengutamakan kualitas bukan kuantitas. Baik secara teori, nash, maupun praktis itulah yang diterapkan Rasulullah saw, khulafaurrasyidin dan para sahabat. Dalam konteks partai Islam, seharusnya partai Islam juga menerapkan konsep ini, bukan konsep lain. Jika menggunakan konsep lain, jangan pakai nama Islam. Ini konsep Islam yang saya pelajari, kalau yang dipelajari orang lain saya nggak tahu.

Lantas, apa yang bisa kita lakukan saat ini?

Kesimpulan saya, ibarat orang sakit, jika tak mau berobat, akan mati dengan sendirinya. Ini sunatullah. Jadi, jika ada orang yang nggak mau beriman, ya nggak apa-apa, kita tidak stres. Demikian juga jika ada orang beriman tapi tak mau memperbaiki keimanannya, juga nggak apa-apa, risiko ditanggung sendiri. Bagi kita yang memahami persoalan, jangan berhenti untuk memperbaiki diri. Jadi yang harus ada dalam diri kita adalah semangat perbaikan, semangat kesembuhan, semangat saling bertausiyah, wa tawasshaw bil haq wa tawasshaw bis shabr.

Ada yang berpendapat, pasca pemilu 2009 partai Islam habis?

Oh ya, saya sepakat, karena sejak sebelum dilahirkan, atau sejak awal berdirinya pada era reformasi tahun 1998, pada hakikatnya mereka sudah mati. Pasalnya, syarat-syarat untuk menjadi partai Islam yang benar-benar islami tidak terpenuhi. Meski PPP sudah lama berdiri, saya juga meyakini akan berguguran juga. Atau paling tidak, partai-partai Islam ini sempat lahir tapi nggak sempat dewasa lantas mati.

Kenapa ustadz mempunyai pandangan demikian?

Karena di dalam al-Qur’an dan sunnah Rasulullah saw dan berbagai fakta sejarah, kita memahami syarat-syarat untuk tumbuhnya sebuah komunitas, partai, atau ormas, bahkan negara Islam sekalipun. Jika syarat-syarat itu tidak terpenuhi, atau sebagian besar syarat-syaratnya tidak terpenuhi, bisa dipastikan bahwa komunitas, partai, ormas atau negara Islam itu meski sempat berdiri  lambat laun akan mati. Bisa mati secara fisik maupun non fisik. Dari semua partai Islam yang ada di Indonesia saat ini, saya nggak menganggap mereka sebagai partai Islam, karena syarat-syarat dasar bagi tumbuh dan berkembangnya partai Islam tidak terpenuhi. Bahwa lambangnya ka’bah, bulan bintang, atau masjid nabawi, tidak akan mencerminkan sebagai partai Islam.

Persyaratan apa saja yang tidak terpenuhi oleh partai Islam kita saat ini?

Terutama persyaratan pada level qiyadah (kepemimpinan) yang tidak berkualitas dan pemikiran-pemikirannya aneh. Contoh, ketika memutuskan untuk berkoalisi, alasan yang dikemukakan adalah koalisi yang kemungkinan besar akan menang. Anak kecil saja tahu soal ini. Anak yang baru bisa ngomong ditanya, “Mau pilih es krim atau jamu?” Otomatis akan pilih es krim. Inilah yang terjadi pada level qiyadah partai-partai Islam kita.

Alasan ini berlawanan dengan dalil syar’i, bertentangan dengan akal kita dan contoh Rasulullah saw. Jika mau menjadi penguasa, Rasulullah saw dikasih oleh pembesar-pembesar Makkah, tapi beliau menolak. Rasulullah saw mengatakan, meskipun matahari dan bulan ada di genggaman kedua tangannya, tidak akan meninggalkan Islam hanya untuk menjadi pemimpin kafir Quraisy. Jadi, urusan agama ini memiliki metoda, fundamen, cara-cara, dan kriteria sendiri, nggak bisa diganggu-ganggu. Jika sudah diganggu, bubar. Balon gede, meski dibolongi kecil sebiji pasti kempes, apalagi jika bolongnya banyak.

Syayid Quthb dalam bukunya ”khashaish al-Islam” (Karakterisktik Konsepsi Islam) yang sangat luar biasa telah menjelaskan dengan gamblang. Terutama soal rabbaniyah Allah, nggak boleh kita mengarang-ngarang. Kepemimpinan dan kebijakan yang dikeluarkannya harus komprehensif dan berimbang. Jadi, faktor utama matinya partai-partai Islam karena kepemimpinan yang lemah.

Di Hamas sendiri, jinnah askari nggak boleh mendominasi tarbiyah atau  jamaah. Padahal, jika nggak ada jihad di Palestina, Hamas sudah masuk kubur seperti PLO. Karena jihad inilah mereka masih memiliki izzah, makanya kuat hingga detik ini. Jika logika yang diterapkan partai Islam di Indonesia digunakan juga oleh Hamas, seharusnya pantas dong jihad atau sayap militer Hamas (Brigadir al-Qassam) mendominasi jamaah. Ternyata, tidak juga. Karena yang namanya sayap harus tetap jadi sayap. Jadi, jamaah itu adalah organisasi besar, kongkret, memayungi semua lini (sayap) perjuangan dalam berbagai bidang, dan mencerminkan sebuah negara sebenarnya. Tapi di negeri kita, pola ini dijungkirbalikkan.

Persyaratan lain?

Kualitas SDM yang mendukung qiyadah mulai dari Eselon I, mereka yang bertugas sebagai konseptor hingga eksekutor, tidak ada yang mumpuni. Karena, selama ini mereka memang tidak pernah dibina ke arah itu, tapi hanya dituntut agar taat, sami’na wa atha’na, sehingga melahirkan generasi ummi (generasi yang tidak berilmu, -red). Nabi saw saja nggak pernah mengatakan, ”Udah pokoknya ikut saya saja nanti kita masuk surga.” Saya ingin lihat kualitas mereka secara konsep maupun pengalaman lapangan?

Persoalannya, perbaikan sistem pemerintahan di Indonesia sangat kompleks. Tidak seperti anggapan mereka, jika kita menjadi anggota DPR beres, jadi menteri beres. Ini sama saja dengan binatang ju’la yang suka mendorong-dorong kotoran tadi itu. Jika sekadar ingin menempel pada kotoran tidak harus mendirikan partai Islam. Saya sendiri sampai menjelang pemilu 2009 lalu banyak ditawari oleh sejumlah partai, baik partai Islam berbasis massa Islam maupun partai sekuler. Mereka mengatakan, ”Ustadz masuk ke kita, dijamin jadi anggota DPR-RI atau menteri. Bantu kami memperbaiki kondisi internal.” Saya tolak, karena saya berpandangan, sangat susah memperbaiki atau membersihkan, sementara kalian masih berada di dalam got kotor. Ke luar dari got itu, baru bisa dibersihkan. Saya ini bukan tukang cuci piring.

Di level grassroot atau pendukungnya bagaimana?

Apalagi, lebih gila. Mereka berideologi dan berpedoman meskipun salah dia tetap partaiku, right or wrong is my party. Jika sudah begini, kita mau bilang apa? Dari level leadership-nya seperti itu, lemah dan tak bervisi, kader-kader intinya yang diharapkan bisa menopang kelemahan kepemimpinan dan bisa menjadi anggota DPR, menteri, jaksa agung dan jabatan-jabatan lain dengan baik, amanah, memperjuangkan umat dan agama di atas segalanya, banyak melakukan penyimpangan. Belum lagi bicara soal militer, keamanan, politik luar negeri, semuanya akan sangat kompleks. Saya melihat, ini semua karena lompatannya terlalu jauh, kasihan mereka, terjun bebas tanpa parasut.

Jika demikian, harapan umat Islam Indonesia harus disematkan pada siapa?

Harapan itu pada Allah saja. Selama ini, kita sudah terlalu banyak berharap pada manusia, akibatnya Allah SWT membuktikan bahwa berharap pada manusia akan selalu gagal. Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in (hanya kepadamu kami menyembah, dan hanya kepadamu kami memohon pertolongan, -red). Pasalnya, jika kita berbicara Islam, apakah itu partai, ormas, gerakan dakwah, atau lainnya, al-Islam ya’lu wa la yu’la ’alahi (Islam itu tinggi, dan tidak ada yang lebih tinggi darinya, -red). Umat Islam Indonesia tergantung sejauh mana mereka mengikuti ’uluwwul Islam itu, yadurul haq (Sebagaimana mereka berputar bersama kebenaran itu). Ketika kedua komitmen itu tidak ada lagi jangan harap, kemenangan akan kita raih. Karena yang dijamin Allah SWT hanya ketinggian Islam bukan umat Islam. Umat Islam akan terbawa menjadi tinggi ketika umat Islam mengikuti ketinggian Islam.

Makanya, Allah mengatakan, ”Wa lillahil ’izzati wa lirrasuli wa lil mukminin. Artinya, orang-orang mukmin yang mengambil kemuliaan dari Allah dan rasul-Nya. Ini seperti yang dikatakan Umar bin Khatab, ”Kunna adzalla qawmin fa adzanallahu bil Islam maghmatalin naal indhatalin minnalli azali Allah”.

Sebagaimana hadits dari Hudzaifah: ”Kunna akhil jahili wa syarrik faja’anallah bil Islam bi hadzal khair (Kebaikan itu hanya bisa dengan Islam, ketika Islam ditinggalkan hilang semua kebaikan itu). Ini juga dijelaskan Allah, ”Wahai orang-orang yang beriman masuk Islam-lah dengan menyeluruh, jangan mengikuti langkah-langkah setan!” (Jika kita mau harus berkomitmen pada Islam secara kaffah, jika tidak kita akan terpeleset mengikuti cara syaitan). Jadi jalan itu hanya dua yakni, Islam atau setan.

Jika dicampuraduk bagaimana?

Ini terjadi pada kaum Yahudi. ”Janganlah mencampuradukkan yang haq dengan kebatilan.” Karena itu, memperjuangkan tegaknya izzatul Islam wal Muslimin di Indonesia dalam versi partai-partai Islam seperti yang ada saat ini hanya fatamorgana. Konsep seperti ini hanya akan mengeluarkan biaya yang sangat besar dan tak terhingga. Artinya, secara umum umat yang awalnya mulai percaya dan menaruh harapan pada partai Islam, kini mulai sirna. Dampaknya akan sangat besar bagi masa depan umat Islam, karena untuk membangun image sebuah partai politik Islam di masa depan akan sangat payah dan memerlukan tenaga sangat besar. Saya sudah pastikan, jika mereka tidak mengubah garis perjuangannya, yang semula fanatik bisa berubah tidak lagi fanatik. Artinya, pola perjuangan di dalam partai Islam yang mengandalkan indoktrinasi akhirnya gagal. Padahal, kader tidak hanya diindoktrinasi, tapi juga diproteksi secara ketat dan berkewajiban menaati aturan dari atas. Persoalannya, doktrin ini letaknya di kepala, suatu saat pikiran orang bisa terbuka.

Jika tidak menggunakan doktrin, lantas bagaimana cara memperkuat jamaah?

Tanamkan kefahaman pada anggota. Jika kefahaman masuk sulit mengubahnya. Ketika jamaah diproteksi dengan cara-cara tradisional, justru akan makin jebol. Kader akan semakin membenci, karena merasa dikibulin dan ditekan-tekan. Berbeda jika yang ditanamkan kefahaman, meski berbeda pendapat tidak akan sampai pada permusuhan.

Munculnya pemimpin zalim merupakan salah satu dari tiga azab besar yang diturunkan Allah karena umat telah meninggalkan ulama. Apakah kita sudah meninggalkan ulama?

Ulamanya juga nggak ada. Tapi ingat, ulama dalam Islam tak terbatas teritorial dan umur. Buktinya, imam empat yang sudah wafat beberapa abad, ilmunya masih kita pakai sampai saat ini. Karenanya, ulama yang kita maksud adalah ulama yang waratsatul anbiya, ulama yang innama yakhsya Allahu min ’ibadihi al-’ulama, ulama yang takut pada Allah. Sehingga, meski sudah meninggal dunia ilmunya tetap kita pakai sampai akhir zaman.

Saya ngajar tazkiyatun nufus di masjid dekat rumah sekali sepekan. Buku itu ditulis oleh Ibnu Razak al-Hambali, ada juga buku yang ditulis Ibnu al-Qayim al-Jauziyah dan Imam al-Gazali. Semua buku ini ditulis pada abad 4 dan 5 Hijriyah. Sangat terasa nikmatnya mempelajari buku dan ilmu-ilmu mereka, dari pada buku-buku baru yang ditulis abad 20 atau 21.

Inilah hebatnya Islam, tradisi keilmuannya terjaga. Meski penulisnya sudah wafat, ia menjelaskan al-Qur’an dan hadits secara runut, sistematis, tek-tek, karena mereka orang-orang yang terbukti sepanjang hidupnya tak pernah terpengaruh pada dunia. Mereka hanya takut pada Allah SWT. Karena hanya takut pada Allah itulah mereka siap menghadapi cobaan hidup. Sangat berbeda antara ulama yang banyak menghadapi tantangan dalam kehidupannya dan bisa mengalahkan tantanganya itu kemudian meninggal, lalu kita baca buku dan karyanya. Dibanding dengan ulama yang hidupnya hanya nempel-nempel pada penguasa, termasuk penguasa Arab Saudi, karyanya nggak ada ruhnya.

Ustadz mengatakan ini karena tidak diajak lagi oleh sebuah partai Islam sehingga tak mendapat jatah jabatan?

Analisa saya ini tidak didasari oleh sifat atau sikap emosional. Mereka bisa saja mengatakan karena saya tidak kebagian, makanya begini. Jujur saya katakan, banyak sekali tuduhan seperti ini. Maaf, bukan karena tidak kebagian lantas saya bersikap kritis. Sejak tahun 1997, saya sudah memiliki Mercedes 500, jadi sorry saja. Duluan saya memiliki Mercedes dari kalian. Jadi, ini adalah isu yang sengaja dikembangkan pada kami yang kritis. Nggak kebagian apa? Kalau kebagian neraka, jelas saya nggak mau. Sekarang mereka juga mengatakan, saya bukan orang dalam, karena sudah dikeluarkan. Saya sudah dikeluarkan secara resmi dari jamaah (sebuah partai politik Islam, red).

Setelah gagal memperbaiki, kenapa ustadz nggak mengasingkan diri?

Saya tidak mengasingkan diri, tapi diasingkan. Saya dan beberapa kawan diasingkan, dipecat. Sorry saja, kita nggak pernah menyerah dalam bertempur. Itu isu yang dikembangkan bahwa kami mengasingkan diri, tak mau lagi bergabung dalam jamaah. Padahal, mereka yang memecat dan mengasingkan kami. Saking cintanya pada jamaah, kedua kawan saya ini sampai mendatangi pimpinan tertinggi di dalam jamaah untuk bertukar pikiran dan saling menasihati. Hasilnya, mereka tetap tak mau berubah.

Kenapa ustadz nggak membuat jamaah baru saja?

Ini yang disebut pemikiran dari syahwat setan. Apalagi, memang bukan ini tujuan saya dan kawan-kawan yang menghendaki perbaikan di dalam jamaah. Kata Ibnu Abas ra, ”Jika kamu sudah berada di dalam kebenaran itulah jalanmu yang harus dijalankan.” Ketika orang atau jamaah tidak lagi bersedia diluruskan, kita tinggal berkomitmen saja pada hadits itu. Atau, kita buat baru. Tapi niat kami tidak sampai ke sana. Karena kita harus mempertimbangkan manfaat dan mudharatnya. Kalau lebih besar mudharatnya, ya tahan diri. Inilah keindahan Islam. Karena memang target akhir kita bukan di sini, tapi keridhaan Allah SWT di dunia dan akhirat.  

Ketika Sabili menyampaikan sesuatu yang ternyata pahit buat dunia harakah, kami sering disalahkan telah menyebarkan pesimisme pada umat. Bagaimana kami menyikapinya?

Ini harus dijawab dengan hadits Hudzaifah, bahwa kita harus membangun dua sisi kehidupan yakni, sisi baik dan buruk. Sisi baik, agar kita bisa memelihara dan mengembangkannya. Sisi buruk, agar kita bisa menghindarinya. Untuk apa kita membangun kebaikan, tapi keburukan yang ada di dalam diri kita sendiri tidak kita ketahui? Batal kebaikan kita di mata Allah. Allah SWT tidak pernah mau tahu apakah kita mengetahui dalam diri kita ada riya’ atau tidak, tapi jika kita riya’, maka amal kebaikan kita menjadi batal. Makanya, dalam belajar harus seimbang. Sebagian besar jamaah dan partai Islam yang ada di Indonesia tidak seimbang dalam mengajarkan Islam. Karena target utamanya hanya agar orang taat dan tunduk. Riya’ nggak pernah diajarkan. Makanya, Tazkiyatun Nufus nggak berkembang di jamaah kita, yang ada hanya debat kusir. Beraninya pun hanya sesama teman sekampung.

Majalah Sabili edisi 26/thXVI
Komen
Tambah Komen Cari
abdullah   |2009-07-08 15:43:20
'Afwan, kenapa ustadz yang mendalami spiritual center bahasanya 'kering' begini
ya?
Jauh dari hikmah saya kira,...."Sejak tahun 1997, saya sudah memiliki
Mercedes 500, jadi sorry saja. Duluan saya memiliki Mercedes dari kalian"..
Na'udzubillah...
Misbah   |2009-07-08 15:53:12
Puluhan tahun belakangan ini, di tengah ketidak populeran Partai
berbasis
Islam, selalu ada komentar
Tuh kan partai berbasis
Islam tidak
disenangi masyarakat Indonesia,
karena Rakyat Indonesia
telah cerdas.
Ungkapan semacam ini sering muncul
namun, namun tidak
ada sanggahan,
layaknya Rakyat Indonesia meng amini,
atau masih tidur
nyenyak. Salam
Misbah   |2009-07-08 15:53:17
Puluhan tahun belakangan ini, di tengah ketidak populeran Partai
berbasis
Islam, selalu ada komentar
Tuh kan partai berbasis
Islam tidak
disenangi masyarakat Indonesia,
karena Rakyat Indonesia
telah cerdas.
Ungkapan semacam ini sering muncul
namun, namun tidak
ada sanggahan,
layaknya Rakyat Indonesia meng amini,
atau masih tidur
nyenyak. Salam
Wied   |2009-07-09 03:27:43
Astaghfirullah wal Hamdulillah.

Untung yang wawancara sabili, kalo media umum
(non islami) bisa jadi judulnya "Partai Islam ibarat Lalat di Pantat
Sapi".

Ustadz,
Kenapa setiap baca tulisan ustadz di media. Justru
menumbuhkan kebencia saya pada Ustadz sendiri?

Astaghfirullah, Ampuni Hambamu
ini ya Allah.
Wied   |2009-07-09 03:28:43
Astaghfirullah wal Hamdulillah.

Untung yang wawancara sabili, kalo media umum
(non islami) bisa jadi judulnya "Partai Islam ibarat Lalat di Pantat
Sapi".

Ustadz,
Kenapa setiap baca tulisan ustadz di media. Justru
menumbuhkan kebencia saya pada Ustadz sendiri?

Astaghfirullah, Ampuni Hambamu
ini ya Allah.
Wied   |2009-07-09 03:29:40
Astaghfirullah wal Hamdulillah.

Untung yang wawancara sabili, kalo media
umum (non islami) bisa jadi judulnya "Partai Islam ibarat Lalat di
Pantat Sapi".

Ustadz,
Kenapa setiap baca tulisan ustadz di media.
Justru menumbuhkan kebencia saya pada
Ustadz sendiri?

Astaghfirullah, Ampuni Hambamu ini ya Allah.
Wied  - Ustadz Fathuddin   |2009-07-09 03:30:39
Astaghfirullah wal Hamdulillah.

Untung yang wawancara sabili, kalo media umum
(non islami) bisa jadi judulnya "Partai Islam ibarat Lalat di Pantat
Sapi".

Ustadz,
Kenapa setiap baca tulisan ustadz di media. Justru
menumbuhkan kebencia saya pada Ustadz sendiri?

Astaghfirullah, Ampuni Hambamu
ini ya Allah.
Wied  - Ustadz Fathuddin   |2009-07-09 03:31:05
Astaghfirullah wal Hamdulillah.
Untung yang wawancara sabili, kalo media umum
(non islami) bisa jadi judulnya "Partai Islam ibarat Lalat di Pantat
Sapi".
Ustadz,
Kenapa setiap baca tulisan ustadz di media. Justru
menumbuhkan kebencia saya pada Ustadz sendiri?
Astaghfirullah, Ampuni Hambamu
ini ya Allah.
Tulis Komen..
Nama:
Email:
 
Keterangan:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 
:angry::0:confused::cheer:B):evil::silly::dry::lol::kiss::D:pinch:
:(:shock::X:side::):P:unsure::woohoo::huh::whistle:;):s
:!::?::idea::arrow:

 

Pilihan Bahasa

Arabic English Filipino French Malay Portuguese Russian Spanish

Radio Sabili 1530 AM

Perspektif Herry Nurdi

 

Usaha Meraih Derajat Sempurna dalam Ramadhan

Berada di bulan mulia, memanfaatkan secara maksimal dan meraih keutamaannya adalah kerinduan orang-o...

Resensi Buku

Perjuangan Muslim Patani
article thumbnailMembicarakan penindasan yang dialami oleh kaum Muslimin, kita selalu mengingat negeri-negeri yang...

Login

  • Masuk
  • Mendaftar
    Registration
    *
    *
    *
    *
    *
    REGISTER_REQUIRED
  • Pengunjung Online

    Kami memiliki 60 Tamu online

    Wawancara Terkini

     

    SBY Ditunggu Di Gaza

    SBY Ditunggu Di Gaza Bagi Indonesia, masalah Palestina adalah utang sejarah yang be...

     

    Jadikan al-Qur’an Standarnya

    “Sebaik-baik kamu ialah orang yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya,” (Riwaya...

    Lintas Dunia

     

    Tantangan Puasa di Alaska

    Muslim di Alaska melakukan sholat tarawih pada saat matahari masih bersinar terang, karena...

     

    Fast-a-thon, Program Belajar Puasa untuk Non-Muslim Amerika

    Fast-a-thon pertama kali diselenggarakan Asosiasi Pelajar Muslim University of Tennessee t...