Saat itu tubuhnya tergelak tak berdaya di belantara hutan. Dengan di kelilingi oleh teman seperjuangannya dia ditandu untuk di bawa pulang ke markas untuk berobat. Namun, pada saat itu juga tersebar kabar bahwa sebagaian temannya lagi sedang berjuang mempertahankan tanah air ini. Dan seketika itu juga dalam keadaan menderita penyakit paru-paru basah , dia bangkit mengobarkan kembali semangat jihad fi sabilillah. Hanya ada dua pilihan baginya, hidup mulia atau mati syahid. Pemahaman itu semua hadir ketika dulu nyantri di sebuah penjara suci yaitu pondok pesantren dan dia adalah jendral soedirman.
Tak bisa di pungkiri bahwasannya kemerdekaan yang di peroleh bangsa Indonesia adalah hasil dari perjuangan keras para santri dan ulama. Namun kasihan beribu kasihan pada prakteknya sangat jauh dari harapan. mereka yang telah mengorbankan harta benda bahkan sampai tetesan darah terakhir terasingkan bahkan tersudutkan sebagai pemecah persatuan bangsa?
Waktu terus di gilas oleh zaman yang melaju tanpa berhenti sejenak untuk belajar pada guru terbaiknya yaitu sejarah. Sejarah telah membuktikan bahwa tanah nusantara pernah melahirkan the golden boys, dan munculnyapun bukan dari istana yang megah, bukan dari didikan sekolah formal, karena pada waktu itu yang bisa masuk sekolah formal orang-orang tertentu saja, dan bukan pula dari kalangan bangsawan melainkan dari sebuah tempat orang-orang berkumpul dengan sarung seragam khasnya, pendidkan tentang kesederhanaan, kemandiriaan dan rela berkorban untuk bangsa dan agama itu semua mereka pahami dengan baik dalam lingkungan islami yaitu pondok pesantren.
Banyaknya deislamisasi sejarah oleh para sejarawan yang tak mempunyai tanggung jawab telah menyebabkan masayarakat awam alergi dengan yang namanya santri . apa lagi di tambah dengan isu-isu terorisme yang kini marak di beritakan oleh media menambah beban sebagai santri untuk menunjukkan jati dirinya sebagai pencerah umat. Alih-alih mengakui identitas sebagai seorang santri, mengucap istilah-istilah islamipun jadi tak berani dan salah satu tujuan para penjajah pun terc apai yaitu menjadikan rakyat Indonesia yang mayoritasnya muslim menjadi bangsa yang illander(minder) mengakui identitasnya sebagai muslim.
Ibaratkan jamur di musim hujan yang tumbuh subur. Seperti itulah keadaan pondok pesantren di Indonesia kini. Tumbuh subur dari sabang sampai merauke dan semua itu berkat estafeta para pendahulu yang telah rapih menyiapkan kader-kader ulama yang tak goyah di terpa godaan –godaan yang datang dari bangsa barat. Namun yang menjadi pertanyaan apakah kualitas santri dulu dan sekarng sama hebatnya? Seiring berjalannya waktu dan maraknya arus globalisasi menyebabkan kehidupan pondok kembang kempis. sehingga alumni santri harus berjuang keras terus memperjuangkan eksistensinya sebagai penerus ulama dan merangkul umat untuk menjadikan perbaikan pondok pesantren sebagai PR bangsa bukan masalah bangsa……………………… ALLAHUAKBAR......................!
Oleh : ma’rifatullah
JFakultas tarbiyah di universitas An-nuaimy Islamic college Jakarta.
biodata
Nama : Ma'rifatullah
Alamat : Alamat : Jln Seha II, No I
Kelurahan : Grogol Selatan
Kecamatan : Kebayoran Lama
Jakarta Selatan, 12220
Profesi : pelajar
no hp :085797503234
- 16/02/2012 10:51 - Hadirilah Tausiah Umum: Membongkar borok Agama Syi'ah, pra debat Islam versus Syi'ah
- 15/02/2012 11:52 - Latihan Kepemimpinan Nasional BEM STAI Persis
- 11/02/2012 06:17 - Bekerja untuk Perubahan Dunia
- 10/02/2012 17:14 - Lowongan Dompet Dhuafa
- 08/02/2012 14:12 - Suri Tauladan Hakiki
- 02/02/2012 12:51 - Persengketaan Tanah Tak Bisa Diatasi, Bukti Kegagalan Demokrasi
- 02/02/2012 12:45 - Hukum Cacat Sumber Kematian Rakyat
- 02/02/2012 12:41 - Pencabutan Perda Miras, Lemahnya Hukum Indonesia
- 25/01/2012 15:55 - Kesempatan Karir di Sabili Group
- 13/01/2012 19:27 - Tim Kemanusiaan PKPU Selesaikan Misi di Filipina




